Banyak pelaku usaha fokus pada desain kemasan, tapi sering lupa satu hal penting ketebalan kardus. Padahal, ketebalan kardus sangat berpengaruh pada keamanan produk saat disimpan maupun dikirim.
Kalau kardus terlalu tipis, produk bisa rusak sebelum sampai ke tangan pelanggan. Sebaliknya, jika terlalu tebal, biaya packaging bisa jadi lebih mahal dari yang seharusnya.
Karena itu, penting untuk memahami cara menentukan ketebalan kardus untuk produk dengan tepat. Artikel ini akan membahasnya secara sederhana agar mudah dipahami, terutama bagi pemula atau pelaku UMKM.
Kenapa Ketebalan Kardus Sangat Penting?
Ketebalan kardus bukan hanya soal tampilan, tetapi juga soal perlindungan produk.
Kemasan yang tepat akan membantu menjaga produk dari tekanan, benturan, hingga perubahan kondisi selama proses distribusi. Apalagi jika produk dikirim melalui jasa ekspedisi yang melewati banyak proses pemindahan barang.
Menurut Fiber Box Association, organisasi industri corrugated box di Amerika Serikat, struktur kardus yang tepat dapat meningkatkan daya tahan kemasan terhadap tekanan hingga beberapa kali lipat dibanding karton biasa.
Artinya, memilih kardus yang tepat bukan sekadar keputusan desain, tetapi juga keputusan logistik.
Mengenal Jenis Ketebalan Kardus Corrugated

Sebelum menentukan kardus yang tepat, penting untuk memahami jenis struktur kardus yang umum digunakan dalam industri packaging.
Kardus kemasan biasanya menggunakan corrugated board, yaitu kardus berlapis yang memiliki gelombang di bagian tengahnya. Struktur ini membuat kardus lebih kuat dan tahan tekanan.
Single Wall
Single wall terdiri dari satu lapisan gelombang di antara dua lapisan kertas.
Jenis ini merupakan kardus yang paling umum digunakan untuk kemasan produk ringan hingga menengah. Banyak UMKM menggunakan kardus jenis ini karena harganya lebih ekonomis dan cukup kuat untuk kebutuhan sehari-hari.
Biasanya digunakan untuk:
- Produk makanan ringan
- Produk fashion
- Skincare atau kosmetik
- Produk retail ringan
Jika kamu ingin memahami lebih dalam tentang struktur ini, kamu bisa membaca juga artikel terkait dengan anchor text “perbedaan kardus single wall dan double wall untuk kemasan produk”.
Double Wall
Double wall memiliki dua lapisan gelombang di dalamnya, sehingga lebih tebal dan kuat.
Jenis kardus ini biasanya digunakan untuk produk yang lebih berat atau mudah rusak saat pengiriman. Banyak digunakan oleh industri elektronik atau produk dengan nilai tinggi.
Contoh produk yang cocok menggunakan double wall:
- Peralatan elektronik
- Botol kaca
- Produk keramik
- Barang berat untuk pengiriman jarak jauh
Cara Menentukan Ketebalan Kardus untuk Produk
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan sebelum memilih ketebalan kardus.
1. Perhatikan Berat Produk
Faktor pertama yang harus dipertimbangkan adalah berat produk.
Produk ringan tentu tidak membutuhkan kardus yang terlalu tebal. Sebaliknya, produk berat membutuhkan kemasan yang lebih kuat agar tidak rusak saat proses pengiriman.
Sebagai gambaran sederhana:
- Produk di bawah 1 kg biasanya cukup menggunakan single wall
- Produk 1–5 kg sebaiknya menggunakan kardus lebih tebal
- Produk di atas 5 kg sering membutuhkan double wall
Panduan ini banyak digunakan dalam industri packaging sebagai standar awal.
2. Pertimbangkan Jenis Produk
Selain berat, karakter produk juga sangat berpengaruh.
Produk yang rapuh seperti kaca atau keramik membutuhkan perlindungan ekstra. Dalam kondisi seperti ini, ketebalan kardus perlu dikombinasikan dengan pelindung tambahan seperti paper wrap atau karton pembatas.
Menurut The Packaging School, lembaga pendidikan packaging dari Clemson University, kemasan yang efektif harus mempertimbangkan tiga hal utama: berat produk, tingkat kerapuhan, dan metode distribusi.
Sumber:
https://packagingschool.com
3. Perhatikan Jarak Pengiriman
Semakin jauh produk dikirim, semakin besar risiko benturan.
Produk yang hanya dikirim dalam kota biasanya tidak membutuhkan kardus terlalu tebal. Namun jika produk dikirim antar kota atau antar pulau, kardus yang lebih kuat akan lebih aman.
Banyak brand e-commerce memilih menggunakan kardus yang sedikit lebih tebal untuk mengurangi risiko kerusakan selama perjalanan.
4. Sesuaikan dengan Metode Penyimpanan
Hal lain yang sering dilupakan adalah cara produk disimpan di gudang.
Jika kardus ditumpuk dalam jumlah besar, tekanan dari kardus di atasnya bisa merusak kemasan di bawah. Karena itu, ketebalan kardus harus disesuaikan dengan sistem penyimpanan.
Menurut International Corrugated Packaging Foundation, struktur corrugated dirancang untuk menahan tekanan vertikal dari proses stacking atau penumpukan barang di gudang.
Sumber:
https://icpfbox.org
5. Perhitungkan Biaya Packaging
Walaupun penting, memilih kardus paling tebal bukan selalu solusi terbaik.
Ketebalan yang terlalu tinggi justru bisa meningkatkan biaya packaging dan pengiriman. Hal ini terutama terasa bagi pelaku UMKM yang harus mengontrol biaya produksi.
Karena itu, memilih ketebalan kardus harus mencari titik keseimbangan antara perlindungan produk dan efisiensi biaya.
Contoh Kasus Sederhana
Misalnya kamu menjual produk cookies dalam toples plastik dengan berat sekitar 500 gram.
Jika menggunakan kardus yang terlalu tipis, risiko penyok atau rusak saat pengiriman akan lebih besar. Namun menggunakan double wall juga mungkin terlalu berlebihan.
Dalam kasus seperti ini, kardus single wall dengan ketebalan standar sudah cukup jika ditambah pelindung sederhana di dalamnya.
Pendekatan seperti ini sering digunakan oleh banyak brand makanan rumahan yang menjual produknya secara online.
Hubungan Ketebalan Kardus dengan Branding Produk
Selain fungsi perlindungan, kardus juga mempengaruhi persepsi konsumen terhadap brand.
Kemasan yang kokoh akan membuat produk terasa lebih profesional. Sebaliknya, kardus yang terlalu tipis bisa membuat produk terlihat kurang premium.
Hal ini juga sering dibahas dalam strategi branding kemasan. Jika kamu ingin memahami lebih jauh tentang hal ini, kamu bisa membaca artikel lain dengan anchor text “kenapa kardus eco friendly jadi pilihan banyak brand modern”.