Pernah melihat sebuah brand hanya dari warna, desain, atau gaya komunikasinya, lalu langsung tahu brand apa itu? Atau mungkin ada brand yang terasa begitu dekat karena cara mereka berbicara seolah-olah sedang berkomunikasi dengan kita?
Hal seperti itu bukan terjadi secara kebetulan. Di baliknya ada sesuatu yang disebut brand personality.
Brand personality membuat sebuah brand terasa lebih dari sekadar nama, logo, atau produk. Ada karakter yang membuatnya terlihat ramah, elegan, playful, profesional, berani, atau bahkan sederhana. Karakter inilah yang kemudian membantu konsumen mengenali dan mengingat sebuah brand.
Apa Itu Brand Personality?
Brand personality adalah karakter atau kepribadian yang dimiliki sebuah brand dan ditampilkan melalui berbagai bentuk komunikasi kepada audiens.
Sederhananya, bayangkan sebuah brand sebagai manusia. Kalau brand tersebut bisa berbicara, kira-kira seperti apa cara bicaranya? Apakah santai dan humoris? Apakah tenang dan elegan? Atau justru energik dan berani?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu menggambarkan brand personality.
Karakter ini dapat terlihat dari banyak hal, mulai dari pemilihan warna, font, desain visual, gaya bahasa, foto produk, konten media sosial, hingga cara sebuah brand merespons pelanggan.
Jadi, brand personality bukan hanya tentang bagaimana sebuah brand terlihat, tetapi juga bagaimana brand tersebut terasa ketika berinteraksi dengan konsumen.
Mengapa Brand Personality Penting?
Bayangkan ada dua brand yang menjual produk serupa dengan harga yang tidak jauh berbeda. Secara fungsi, keduanya mungkin sama-sama mampu memenuhi kebutuhan konsumen.
Namun, salah satunya memiliki karakter yang jelas. Cara berbicaranya konsisten, desainnya mudah dikenali, dan komunikasinya terasa dekat dengan target audiens.
Dalam kondisi seperti ini, karakter brand dapat menjadi salah satu hal yang membuat konsumen lebih mudah membedakannya dari kompetitor.
Membuat brand lebih mudah dikenali
Brand yang memiliki karakter konsisten cenderung lebih mudah dikenali.
Misalnya, ketika sebuah brand selalu menggunakan gaya visual minimalis, warna tertentu, dan bahasa yang khas, audiens lama-kelamaan dapat mengenalinya bahkan sebelum melihat nama atau logonya.
Konsistensi tersebut membangun sebuah identitas yang kuat di benak konsumen.
Membantu membangun hubungan dengan konsumen
Orang tidak selalu memilih sebuah brand hanya karena produknya bagus. Perasaan yang muncul ketika berinteraksi dengan brand juga dapat memengaruhi keputusan mereka.
Brand yang komunikasinya hangat akan memberikan kesan yang berbeda dari brand yang menggunakan gaya komunikasi formal.
Ketika karakter tersebut sesuai dengan kepribadian audiens, komunikasi bisa terasa lebih relevan dan personal.
Membuat brand tidak terasa generik
Salah satu tantangan dalam branding adalah ketika sebuah brand terlihat mirip dengan banyak kompetitor.
Logo mungkin berbeda, tetapi gaya visual, warna, bahasa, dan kontennya terasa sama.
Brand personality dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan pembeda. Bukan sekadar membuat desain terlihat menarik, tetapi memberikan alasan mengapa sebuah brand terasa berbeda.
Apa Saja Contoh Brand Personality?
Tidak ada satu karakter yang wajib digunakan semua brand. Kepribadian brand sebaiknya disesuaikan dengan positioning, produk, dan target audiens.
Beberapa karakter yang umum digunakan antara lain:
1. Friendly
Brand dengan karakter friendly biasanya menggunakan bahasa yang hangat, sederhana, dan mudah didekati.
Gaya komunikasi seperti ini cocok untuk brand yang ingin menciptakan kesan akrab dan tidak berjarak dengan konsumen.
2. Elegant
Karakter elegant biasanya ditampilkan melalui visual yang clean, pemilihan warna yang terkontrol, tipografi yang berkelas, serta komunikasi yang lebih tenang.
Brand tidak harus menggunakan banyak elemen untuk terlihat elegan. Justru kesederhanaan dapat menjadi bagian dari karakternya.
3. Playful
Karakter playful lebih berani bermain dengan warna, ilustrasi, copywriting, maupun gaya komunikasi.
Bahasanya cenderung ringan dan dapat menggunakan humor atau ekspresi yang lebih ekspresif.
4. Professional
Brand dengan personality professional biasanya mengutamakan komunikasi yang jelas, terpercaya, dan terstruktur.
Karakter ini banyak digunakan oleh brand yang ingin menonjolkan keahlian, kredibilitas, dan rasa aman.
5. Bold
Karakter bold memiliki gaya yang lebih berani dan percaya diri.
Hal tersebut bisa terlihat dari warna yang kuat, headline yang tegas, visual yang mencolok, atau komunikasi yang tidak terlalu berhati-hati.
Yang terpenting bukan memilih karakter yang terlihat paling menarik, tetapi memilih karakter yang memang sesuai dengan brand.
Bagaimana Cara Menentukan Brand Personality?
Menentukan karakter brand sebenarnya tidak harus dimulai dari desain.
Sebelum memilih warna atau font, coba pahami terlebih dahulu siapa brand tersebut dan ingin dikenal sebagai apa.
Kenali target audiens
Mulailah dengan memahami orang yang ingin kamu ajak berkomunikasi.
Apa yang mereka sukai? Bagaimana gaya komunikasi yang biasa mereka gunakan? Apa yang mereka anggap menarik? Dan seperti apa karakter brand yang menurut mereka terasa relevan?
Misalnya, brand yang menargetkan anak muda mungkin membutuhkan gaya komunikasi yang lebih santai dibandingkan brand yang menawarkan layanan profesional untuk perusahaan.
Tentukan 3–5 karakter utama
Jangan mencoba membuat brand menjadi semuanya sekaligus.
Pilih beberapa kata yang paling menggambarkan karakter yang ingin dibangun.
Contohnya:
Warm – Simple – Aesthetic – Friendly
Atau:
Bold – Modern – Confident – Energetic
Kumpulan kata tersebut nantinya dapat menjadi pedoman ketika membuat desain dan konten.
Tentukan bagaimana brand berbicara
Setelah mengetahui karakternya, terjemahkan personality tersebut ke dalam bahasa.
Brand yang friendly tidak akan berbicara dengan cara yang terlalu kaku.
Begitu pula brand yang ingin terlihat premium mungkin akan memilih kata-kata yang lebih terkurasi dan tidak terlalu banyak menggunakan bahasa yang berlebihan.
Inilah yang disebut tone of voice.
Terjemahkan ke dalam visual
Karakter brand juga perlu terlihat secara visual.
Misalnya, karakter playful dapat diterjemahkan melalui warna cerah, ilustrasi, dan tipografi yang lebih ekspresif.
Sementara karakter minimalis dapat menggunakan ruang kosong, warna yang lebih terbatas, dan tata letak yang sederhana.
Dengan begitu, personality tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar terlihat dalam identitas visual.
Brand Personality Bukan Berarti Harus Selalu Unik
Ada anggapan bahwa sebuah brand harus memiliki karakter yang sangat berbeda agar mudah diingat.
Padahal, yang tidak kalah penting adalah konsistensi.
Karakter sederhana yang digunakan secara konsisten dapat lebih mudah dikenali dibandingkan karakter yang sebenarnya unik tetapi berubah-ubah setiap kali membuat konten.
Bayangkan sebuah brand hari ini tampil minimalis dan elegan, minggu depan berubah menjadi playful dengan warna yang sangat ramai, lalu beberapa hari kemudian menggunakan gaya komunikasi formal.
Audiens akhirnya akan kesulitan memahami sebenarnya brand tersebut ingin terlihat seperti apa.
Karena itu, personality yang jelas perlu diterapkan secara konsisten di berbagai titik komunikasi.
Bagaimana Menerapkan Brand Personality dalam Konten?
Brand personality sebaiknya tidak hanya terlihat di logo atau kemasan.
Karakter tersebut perlu muncul dalam pengalaman audiens ketika mereka berinteraksi dengan brand.
Mulai dari caption Instagram, desain feed, banner marketplace, foto produk, video pendek, hingga cara membalas komentar.
Misalnya, jika karakter brand adalah warm dan friendly, caption dapat menggunakan bahasa yang lebih personal dan tidak terlalu formal.
Jika karakternya minimalis dan elegant, desain konten dapat menggunakan visual yang clean dengan copy yang singkat dan terarah.
Dengan cara ini, audiens tidak hanya melihat identitas brand. Mereka juga bisa merasakan karakter tersebut melalui setiap interaksi.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membangun Brand Personality
Salah satu kesalahan yang cukup umum adalah memilih karakter hanya karena sedang mengikuti tren.
Desain yang sedang populer memang bisa terlihat menarik. Namun, belum tentu sesuai dengan identitas brand atau target audiens.
Kesalahan lainnya adalah terlalu banyak karakter dalam satu brand.
Ingin terlihat premium, tetapi juga ingin playful. Ingin profesional, tetapi sekaligus sangat santai. Ingin minimalis, tetapi menggunakan terlalu banyak elemen visual.
Hasilnya bisa membuat identitas brand terasa tidak konsisten.
Brand personality seharusnya membantu menyederhanakan keputusan kreatif, bukan membuatnya semakin membingungkan.
Brand Personality Membantu Brand Punya “Rasa”
Pada akhirnya, brand personality adalah tentang bagaimana sebuah brand ingin dirasakan dan diingat oleh audiens.
Logo dapat membantu orang mengenali brand. Produk dapat memberikan pengalaman. Namun, personality membantu memberikan karakter yang membuat brand terasa lebih manusiawi.
Karena itu, sebelum bertanya, “Desain brand saya sudah bagus atau belum?”, coba tanyakan hal yang lebih mendasar:
“Kalau orang melihat brand saya, karakter apa yang mereka rasakan?”
Jika jawabannya jelas dan konsisten, berarti brand tersebut sudah mulai memiliki personality yang kuat.
Kesimpulan
Brand personality bukan sekadar memilih gaya desain atau menentukan warna brand. Ini adalah proses membangun karakter yang konsisten melalui visual, bahasa, konten, dan berbagai bentuk interaksi dengan konsumen.
Mulailah dengan menentukan beberapa karakter utama yang benar-benar mewakili brand. Setelah itu, terjemahkan karakter tersebut ke dalam tone of voice, visual identity, konten, hingga cara brand berkomunikasi dengan pelanggan.
Brand yang memiliki personality yang jelas akan lebih mudah dibedakan, dikenali, dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan audiens.
Jadi, kalau brand kamu terasa masih “biasa saja”, mungkin masalahnya bukan karena desainnya kurang menarik. Bisa jadi, karakternya belum benar-benar terlihat.