Pernah nggak sih kamu penasaran, kenapa satu unggahan bisa menyebar ke mana-mana dalam hitungan jam, sementara unggahan lain—meski dibuat dengan usaha yang sama besar cuma dilihat segelintir orang lalu tenggelam? Jawabannya jarang soal keberuntungan. Ada pola psikologis di balik keputusan seseorang menekan tombol “bagikan”, dan begitu kamu memahaminya, kamu bisa mulai membuat konten yang bukan cuma dilihat, tapi disebarkan.
Riset dari Jonah Berger, penulis buku Contagious: Why Things Catch On, menemukan bahwa orang membagikan sesuatu bukan semata karena kontennya bagus, melainkan karena konten itu membuat mereka terlihat baik, merasa terhubung, atau punya alasan emosional untuk diteruskan. Berdasarkan prinsip itu, berikut lima jenis konten yang paling sering “menular” di media sosial.
1. Konten yang Membangkitkan Emosi Kuat
Konten netral jarang dibagikan. Yang menyebar cepat adalah konten yang memicu emosi dengan intensitas tinggi—baik itu kekaguman, kemarahan, kebahagiaan, maupun keharuan. Video tentang aksi kebaikan spontan, kisah perjuangan yang mengharukan, atau berita yang memicu kemarahan kolektif cenderung dibagikan lebih cepat dibanding informasi yang disampaikan datar-datar saja.
Kuncinya bukan sekadar “menyentuh hati”, tapi memicu apa yang disebut high-arousal emotion—emosi yang membuat jantung berdebar, entah karena terharu atau geram. Emosi seperti kesedihan yang tenang (low-arousal) justru cenderung membuat orang diam, bukan berbagi.
Insight praktis: saat membuat konten, tanyakan pada diri sendiri—apakah ini akan membuat orang merasa sesuatu yang cukup kuat sehingga mereka ingin orang lain merasakannya juga?
2. Konten yang Memberi Nilai Praktis (Tips, Trik, dan Panduan)
Orang suka terlihat berguna di mata orang lain. Ketika seseorang membagikan tips hemat, trik produktivitas, atau panduan langkah demi langkah, secara tidak langsung mereka sedang memberi hadiah kepada koneksinya—sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah sosok yang “tahu banyak hal”.
Konten format listicle (“7 Cara Mengatasi…”), infografis langkah praktis, atau video tutorial singkat termasuk dalam kategori ini. Konten semacam ini punya keunggulan tambahan: nilainya tidak lekang oleh waktu (evergreen), sehingga terus dibagikan bahkan lama setelah pertama kali diunggah.
Insight praktis: konten yang benar-benar bisa langsung dipraktikkan pembaca dalam lima menit ke depan punya peluang dibagikan jauh lebih tinggi daripada konten yang hanya bersifat informatif umum.
3. Konten yang Membangun Identitas dan Citra Diri
Ini prinsip yang sering diabaikan: orang membagikan sesuatu bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk menunjukkan siapa diri mereka. Ketika seseorang membagikan artikel tentang keberlanjutan lingkungan, kutipan motivasi, atau opini tentang isu sosial tertentu, mereka sedang menyusun citra diri mereka di mata publik—sebagai orang yang peduli lingkungan, ambisius, atau kritis terhadap isu tertentu.
Fenomena ini disebut self-presentation. Konten yang selaras dengan nilai, aspirasi, atau identitas yang ingin ditampilkan seseorang akan lebih mudah dibagikan, karena tindakan berbagi itu sendiri menjadi semacam pernyataan diri.
Insight praktis: merek atau kreator yang berhasil menyampaikan nilai jelas (bukan sekadar produk) akan lebih mudah dibagikan, karena audiens merasa ikut menyuarakan nilai tersebut lewat unggahan mereka.
4. Konten Berbasis Cerita (Storytelling)
Data dan fakta memang penting, tapi manusia jauh lebih mudah mengingat dan menyebarkan cerita. Studi Berger juga menunjukkan bahwa konten yang dibungkus dalam narasi—punya tokoh, konflik, dan penyelesaian—lebih mudah menempel di ingatan dan lebih sering diceritakan ulang, baik secara langsung maupun lewat tombol share.
Inilah sebabnya studi kasus, kisah pelanggan, atau cerita perjalanan pribadi (personal journey) sering berkinerja lebih baik dibanding unggahan yang hanya berisi statistik atau klaim tanpa konteks manusiawi.
Insight praktis: sebelum membuat konten edukatif atau promosi, coba ubah pendekatannya menjadi cerita—siapa tokohnya, apa tantangannya, dan bagaimana solusinya ditemukan. Angka akan lebih mudah diingat kalau dibungkus dalam narasi.
5. Konten yang Memicu Kejutan atau Rasa “Wah, Aku Baru Tahu”
Otak manusia secara alami tertarik pada hal-hal yang tidak terduga. Fakta unik, statistik mengejutkan, atau sudut pandang yang berlawanan dengan asumsi umum cenderung menimbulkan reaksi “aku harus kasih tahu orang lain soal ini”. Ini berkaitan dengan konsep practical value sekaligus social currency—membagikan sesuatu yang jarang diketahui membuat seseorang terlihat lebih “well-informed” di antara lingkarannya.
Konten semacam “fakta yang jarang diketahui tentang…”, “ternyata selama ini kita salah kaprah soal…”, atau eksperimen dengan hasil tak terduga masuk dalam kategori ini.
Insight praktis: semakin besar jarak antara ekspektasi audiens dan kenyataan yang kamu sampaikan, semakin besar pula dorongan mereka untuk membagikannya sebagai bahan obrolan.
Kesimpulan
Kalau ditarik satu kesimpulan, konten yang paling sering dibagikan punya kesamaan: kontennya memberi sesuatu kepada orang yang membagikannya entah itu emosi, manfaat praktis, citra diri yang lebih baik, koneksi lewat cerita, atau rasa menjadi orang pertama yang tahu sesuatu yang menarik.
Jadi, sebelum mengunggah konten berikutnya, coba tanyakan: apa yang akan didapatkan orang lain ketika mereka membagikan ini ke teman-temannya? Kalau jawabannya jelas, kemungkinan besar kontenmu sudah setengah jalan menuju viral.